Jumat, Oktober 09, 2009

Renungan


Berapa Malaikat Yang Kau Temui Hari Ini????

Ya berapa malaikat yang sudah kau temui hari ini?
Atau hari kemarin?
Di dalam perjalananmu menuju tempat kerja?
Atau dalam perjalananmu menuju ke rumah kembali?
Berapa?

Bahkan itu di rumahmu sendiri.
Berapa malaikat yang kau temui?

Tidak ada?
Tidak mungkin! Siapa bilang? Smile

Mari kita ingat-ingat lagi...

Mungkin dia yang membuatmu marah-marah karena
membuatmu terbangun di tengah malam buta. Membuatmu
terjaga dengan tangisan. Dan kau hanya berkata dengan
bersungut-sungut, "Anak siapa sih? Rese amat
malem-malem nangis. Berisik!"

Padahal mungkin ia membangunkanmu untuk sesuatu hal
bermanfaat yang bisa kau lakukan di tengah malam itu.

Mungkin dia yang membuatmu sewot, ketika kau
bertabrakan badan di jalan sehingga membuatmu
terjatuh. Dan kau menjadi sedikit sakit dan malu. Dan
kau membentaknya dengan ucapan, "Pake mata dong kalo
jalan!"
Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berlatih bersabar
dan malahan justru jika ia tidak menabrakmu kau akan
sedetik lebih cepat dan mungkin ceritanya akan
berbeda. Tertabrak mobil barangkali.

Mungkin dia yang membuatmu berpikir buruk, sebab
setiap hari ia selalu menengadahkan tangan padamu
dengan pakaian compang-camping dan baju dekilnya.
Sehingga membuat ini terbersit di pikiranmu, "Males
amat sih ini orang. Badan masih seger gitu loh?"
Padahal mungkin ia mengajakmu untuk berpikir positif
dan lebih bermurah rejeki, setidaknya bermurah senyum.

Ya. Cobalah ingat-ingat lagi. Berapa kali dalam sehari
kau membentak, menghardik, membenci, berprasangka,
mencibir, memaki orang lain?

Berapa kali?

Sebab mungkin sebanyak itu pulalah kau berlaku tidak
sepantasnya pada malaikat.

Senyumlah setiap hari pada siapapun yang kau jumpai.
Berpikirlah positif pada setiap orang yang kau temui.
Perlakukanlah orang lain dengan cara yang sama seperti
kau mengharapkan orang lain memperlakukanmu. Tuhan
selalu "bekerja" dengan cara yang misterius.
Maka, selalu lah peka dalam menyikapi semua ini.


Catatan seorang sahabat

Senin, Oktober 05, 2009

Nasi uduk made in Jeddah




Nasi uduk salah satu masakan khas Indonesia memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia terlebih bagi mereka yang tinggal di pulau jawa. Biasanya masakan ini selalu hadir pada perayaan seperti misalnya syukuran, hajatan atau peringatan hari besar islam. Bahkan nasi uduk ini sudah banyak di perjual belikan terutama di pagi hari karena nasi uduk cocok juga untuk sarapan pagi.

Nasi uduk terbuat dari beras yang di masak dengan santan kelapa, daun salam dan lengkoas sehingga memberikan cita rasa yang khas di lidah.

Di Indonesia tidak sulit menemukan nasi uduk karena banyak yang berjualan nasi uduk. Tapi lain halnya di Jeddah, hanya ada dua rumah makan yang menyajikan menu nasi uduk itu pun jarak nya lumayan jauh dari tempat tinggal saya 15 menit perjalanan dengan mobil ke sarafiyyah. Tapi jarak tak menjadi halangan demi mengobati rindu akan citarasa Indonesia. Nasi uduk pake semur jengkol minumnya teh manis panas…uenak tenan.

Sabtu, Oktober 03, 2009

Menyusuri sudut kota Jeddah (part 1)


Jeddah merupakan salah satu kota terbesar d kerajaan arab Saudi yang terletak di tepian laut merah. Sebagai kota dagang Jeddah di lengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, mulai dari Bandar udara, pelabuhan, kantor perwakilan Negara dan lain sebagainya.

Sebagai kota sentral perdagangan Jeddah di padati oleh banyak orang dari berbagai Negara. Mulai dari negara2 tetangga d timur tengah, afrika, eropa, amerika dan asia termasuk Indonesia, sehingga menjadikan Jeddah sebagai kota cosmopolitan dengan berbagai kebudayaan. Selain itu Jeddah juga merupakan tempat transit para jamaah haji dari berbagai Negara yang membuat Jeddah amat sangat pada musim haji.

Berawal dari keingin tahuan yang lebih banyak tentang kota Jeddah akhirnya saya memberanikan diri untuk berkeliling menyusuri kota Jeddah sambil mengisi waktu libur di hari jum’at.

Kali ini saya berniat berkunjung ke district Al-Kandariyyah yang terletak Jeddah bagian utara. Selepas menikmati sarapan tamis (roti arab) dan sahi (teh campur susu). Saya berangkat dengan menumpang hafla alat alat transportasi favorit saya yang cukup dengan 2 real saja ke tempat yang di tuju. Kendaraan sejenis mini bus yang memang terlihat usang akibat kurangnya perawatan dari sang pemlik, tanpa mukayyif (AC) di tambah suasana hafla kali ini memang terasa sesak karena penuhnya penumpang, tapi masih beruntung saya berangkat pagi karena udara luar belum begitu panas dan para penumpang hafla masih segar tanpa keringat sehingga saya masih bisa menikmati perjalanan. Jeddah memang pusatnya perdagangan, selama di perjalanan hanya terlihat barisan kios2 atau swalayan bahkan pasar tradisional, menikmati itu saya jadi kangen akan kampung halaman yang jalan menuju rumah hanya menampilkan hamparan sawah yang luas sesekali perkampungan warga. 25 menit sudah saya nikmati perjalanan dari tempat tinggal saya akhirnya sampai juga di suhaifa. Sebrang jalan suhaifa sudah termasuk wilayah Al-Kandariyyah. Al-Kandariyyah atau kandara terbagi dalam tiga kawasan yaitu kandara 1, 2, dan 3. Terlihat banyak bangunan hotel dan pertokoan berjajar di depan district ini menutupi perkampungan yang sangat padat dan sedikit tidak teratur.

Dengan berjalan kaki saya menyusuri kandara yang sangat padat dan ramai, banyak terlihat orang2 berlalu lalang, orang India, Bangladesh, Pakistan, Indonesia dan arab menandakan daerah ini sudah banyak di huni oleh warga pendatang yang membaur dengan warga setempat.

Persimpangan demi persimpangan terlewati akhirnya sampai di persimpangan terakhir terlihat ada baqala (toko) Indonesia yang menandakan bahwa banyak terdapat orang2 indo yang bermukim di daerah ini. Saya pun mampir sejenak untuk membeli minuman dan membeli pulsa karena saya hendak menelpon salah seorang teman yang katanya tinggal di daerah ini. Sambil minum asir (jus) mangga yang saya ambil dari lemari es toko saya berbincang sedikit dengan penjaga toko tersebut. Menurutnya banyak orang2 indo yang bermukim disini terlebih yang kosongan (tanpa berkas resmi). Mereka sering berbelanja kebutuhan sehari di toko ini terlebih makanan indo yang banyak terdapat di toko ini. Beberapa saat kemudian masuk 3 orang wanita setengah baya menggunakan abaya (baju hitam khusus wanita khas arab) lengkap dengan cadar dan terlihat hanya sorotan mata dari mereka. Setelah mendapatkan barang yang mereka beli mereka menghampiri penjaga toko untuk menanya kan berapa harga belanjaan mereka. Di lihat dari belanjaan mereka yang terdiri dari bahan masakan seperti beras, tahu tempe, sayuran, minyak goreng dan beberapa bumbu dapur, yang lain nya ada yang membeli peralatan mandi. Setelah selesai melakukan pembayaran mereka langsung berlalu pergi dengan barang belanjaan yang baru saja mereka beli. Tersadar kalau saya harus menelpon teman akhirnya telpon yang kebetulan dia lagi d rumah lalu dia menyuruh saya untuk menunggunya di toko ini karena dia akan menjemput saya di toko ini. Beberapa saat setelah saya telpon dia datang menghampiri saya dan langsung mengajak saya ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari baqalah yang saya singgahi tadi.

Farid seorang teman yang berasal dari sampang-madura adalah salah satu TKI yang melarikan diri dari kafil atau majikan karena mendapatkan pekerjaan dan gaji yang tidak sesuai dengan kontrak kerja yang di sepakati ketika masih di PJTKI di Indonesia. Dengan beberapa orang lainnya farid tinggal rumah kontrakan yang tidak begitu besar tapi di huni oleh banyak orang untuk meringankan biaya rumah yang mereka keluarkan setiap bulannya. Banyak cerita2 sedih dan mengharukan yang saya dengar dari para penghuni rumah kontrakan. Dari beberapa orang penghuni rumah ternyata ada salah seorang yang satu daerah dengan saya. Sebut saja Iyam seorang wanita 28 tahun yang sudah bekerja di Saudi kurang lebih 4 tahun, bahkan sudah 2 ganti majikan. Namun di majikan yang ke-3 setelah Iyam pulang kampung, Iyam berniat kabur karena tidak tahan dengan perlakuan majikan yang semena2 yang akhirnya menghantarkan Iyam ke Jeddah dan bekerja disini. Demi anak dan orang tua nya Iyam rela kerja di Saudi karena suami yang ia harapkan pergi meninggalakan nya tanpa membiayai anak mereka yang tengah menginjak remaja. Keasyikan perbincangan kami terhenti oleh seruan adzan yang memanggil kaum laki2 untuk melaksanakan sholat jum’at. Dan kami bersegera untuk bersiap berangkat ke mesjid.

Selepas sholat jum’at kami kembali ke rumah kontrakan, dan naluri perut sudah memanggil genderang2 usus sudah berbunyi sering otak dan hati sudah dengan kompaknya bernyanyi lapar. Tapi memang dasarnya sudah rejeki rupanya hari itu ibu yang tinggal di rumah masak masakan yang cukup special, semur jengkol, tempe oreg dan ikan asin, benar2 membuat genderang usus berbunyi kencang. Kami pun makan bersama di tengah rumah dengan lahapnya apalagi teh iyam mebuatkan saya sambal serasa ada di karawang. Walaupun tak ingin cepat2 keluar dari rumah itu tapi juga tak ingin untuk berlama-lama, merasa tidak enak dengan penghuni rumah yang lain. Akhirnya selepas makan saya mengajak farid untuk keluar mengantarkan saya berkeliling kandara. Kemudian farid mengajak saya berkunjung ke rumah temannya yang istrinya orang sunda juga. Setelah berjalan kaki kurang lebih 15 menit akhirnya kami sampai di rumah teman farid yang masih berada di kandara.

Lain dengan rumah kontrakan farid yang di huni oleh banyak orang, rumah temannya cenderung lebih rapi karena memang hanya d huni oleh 2 keluarga. Teman farid berasal dari cirebon dan istrinya dari bandung. Sebut saja mas dan eteh, c mas adalah orang resmi yang bekerja di pabrik karpet dan c eteh nya orang kosongan yang lari dari majikannya. Mereka menikah di Saudi dan sudah menjalani rumah tangga selama kurang lebih 2 tahun. Mereka di karuniai sepasang putra kembar yang di beri nama Hasan dan Husein yang berumur 8 bulan. Si mas berniat memulangkan istrinya ke Indonesia karena sebagai seorang pekerja biasa si mas merasa tidak mampu membiayai kehidupan anak istrinya di Jeddah. Dia bercerita untuk membeli susu formula saja dia harus membelanjakan 900 real, padahal gaji yang dia terima tiap bulannya tidak mencapai 3000 real. Pada akhirnya niat si mas di dukung oleh kebaikan si eteh telah mereka sepakati. Namun karena si eteh ini adalah seorang kaburan terpaksa si eteh harus pulang melalu jalan tarhil (deportasi). Sudah dapat saya banyangkan betapa repotnya c eteh pulang dengan 2 orang anak kembar yang masih berumur 8 bulan sendirian tanpa di temani oleh suami.

Hari ini saya banyak mendapatkan pengalaman hidup dari mereka yang bisa saya jadikan catatan dan bahan renungan, hidup itu memang tidak selalu indah, ada kesedihan dalam kebahagian, ada bahagia dalam kesediahan. Cinta dan cinta bisa berjalan beriringan sepanjang rasa syukur terpatri di hati kita. Akhirnya selepas insya saya pulang ke al-wajereyyah dengan membawa banyak cerita. Sebelum pulang saya dan farid mampir di rumah warung sate yang terdapat di suhaifa untuk makan malam, selepas makan saya langsung bergegas menuju pemberentian hafla untuk kembali pulang, lambaian tangan farid menghantarkan kepulangan saya…syukron ya akhi.!!

Kamis, Oktober 01, 2009


Minal aidin walfa idzin..
Mohon maaf lahir dan batin..

1 Syawal 1430 Hijriya,

Senin, September 07, 2009

Osama..


Bukan Osama bin Laden tapi Osama Rajab Taha, dia adalah salah seorang sahabat yang berasal dari Palestine. Menurut ceritanya sudah sejak kecil dia sudah berada di Kingdom of Saudi Arabia ( KSA ). Meski sudah sejak lama Osama tinggal di Saudi namun kecintaan akan tanah kelahirannya Palestine tidak perlu diragukan lagi. Osama selalu menangis ketika negerinya di bumi hangus kan oleh bom dan rudal milik Zionis Israel.

Sebagai seorang muslim Osama taat menjalankan syariat islam terlebih sholat, ia tak pernah ketinggalan waktu sholat apalagi meninggalkan sholat, ia yang selalu mengingatkan waktu sholat di pabrik tempat kami bekerja “ili, bagi khomsah degiga sholah” (ili, waktu sholat tinggal 5 menit lagi maksudnya). Pun amalan lain yang di anjurkan selalu ia kerjakan. Apa yang ia lakukan sungguh menggambarkan pribadi muslim yang baik. Malu rasanya ketika melihat keseharian dan gaya hidup osama, jangankan menjalankan islam secara kaffah berusaha untuk lebih baik dari kemarin pun sangat berat rasanya buat saya namun osama sebagai seorang sahabat selalu mengingatkan saya “ili semua yang hidup pasti mati dan kalau sudah mati amalan ibadahnya saja yang dapat dibawa jadi berusahalah menumpulkan bekal sebanyak-banyaknya”

Tak jarang osama menegur saya ketika saya sedang mendengarkan atau melantunkan lagu “ili, hadza mafi faedah” katanya (ili itu gak da manfaatnya maksudnya)

Meskipun hingga saat ini yang usinya telah mencapai 37 tahun osama belum juga berkeluarga namun dia tak pernah mengeluh atau bersedih seperti yang sering saya lakukan dia selalu berdo’a agar di berikan jodoh yang terbaik menurut ALLAH katanya “walaupun jodoh saya tidak bertemu di dunia, Insya ALLAH bertemu nanti di akhirat”

Banyak pelajaran tentang kehidupan yang dapat saya ambil dari seorang pribadi osama mulai dari kesabaran dan ketaatannya hingga kehidupan sehari-harinya.

Syukroon ya osama, inta sadiq ana fii dunya wal akhirat….Amin

Mereka juga anak bangsa


Hidup sebagai seorang pelarian bukanlah sebuah pilihan hidup yang tepat, terlebih jika kita berada di Negara orang lain. Namun sepertinya pilihan itu merupakan pilihan yang tepat bagi sebagian orang yang memutuskan untuk menjadi seorang pelarian.

Kingdom 0f Saudi Arabia ( Kerajaan Arab Saudi ) adalah salah satu Negara tujuan para TKI mencari nafkah. Dengan bermodalkan keahlian seadanya dan tekad yang besar mereka berangkat ke Saudi dengan harapan bisa merubah taraf hidup keluarga, para TKI atau TKW ini banyak bekerja pada sector non formal seperti menjadi pembantu rumah tangga, supir, haris ( penjaga rumah ), pelayan restoran dan sebagainya. Pada sector ini tanggung jawab para pekerja ada di tangan kafil/majikan ( atau orang yang menggaji mereka ) dan bukan perusahaan atau pemerintah melainkan perorangan. Tidak sedikit kasus-yang terjadi antara majikan dan pekerja, mulai dari penundaan pembayaran upah, perlakuan kasar hingga pelecehan sexual, terutama ini di alami oleh para TKW.

Kasus-kasus tersebut pada akhirnya menyebabkan mereka berniat untuk lari atau menjadi kaburan, walaupun mereka harus mengambil resiko deportasi atau briman ( di penjara ). Banyak di antara mereka yang di penjarakan terlebih dahulu sebelum di deportasi, karena peraturan di Saudi yang menyatakan bahwa apabila seseorang melarikan diri sebelum masa kontrak selesai ( 2 tahun ), dan kemudian tertangkap namun masih dalam masa kontrak maka seseorang itu harus di penjarakan sampai masa kontrak selesai baru kemudian di deportasi. Sungguh hal yang sangat beresiko akan tetapi memang tak ada pilihan lain demi mempertahankan kehormatan. Namun tidak sedikit pula yang melarikan diri dari majikan atau tempat kerja nya demi mencari penghasilan yang lebih.

Terutama di Jeddah yang banyak sekali saya temui orang kaburan, ini mungkin terjadi karena Jeddah adalah salah satu kota terbesar di Saudi dan menjanjikan banyak pekerjaan bagi orang kaburan, juga karena terdapat tempat pemulangan/deportasi ( tarhil ) yang memang hanya terdapat di Jeddah ( kandara ). Seperti yang di beritakan oleh liputan6.com beberapa waktu lalu.

Di Jeddah orang-orang kaburan ini tinggal di sebuah rumah yang di huni oleh banyak orang yang sering di istilahkan dengan sebutan “penampungan”. Di dalam 1 kamar bisa di huni oleh 8-10 orang, bisa di bayangkan bagaimana sesaknya tinggal disebuah penampuangan. Tapi itu relative ada juga ada juga penampungan yang di huni oleh beberapa orang namun harus membayar sewa rumah yang lebih mahal. Aktivitas orang kaburan pun tak jauh beda dengan orang resmi, mereka bekerja, bersosialisasi dengan yang lain atau bahkan berkeluarga, tidak sedikit beberapa teman saya yang kaburan memiliki anak padaha ini sungguh sangat beresiko, betapa tidak setiap registrasi rumah sakit atau klinik harus di sertakan iqomah ( kartu domisili ), bayangkan bagaimana kalau anak atau istri nya sakit, namun dengan mudah mereka menjawab “hidup itu sudah ada yang ngatur”. Akan tetapi semua aktiitas yang mereka lakukan selalu di sertai rasa was-was dan kepasrahan karena setiap saat mereka bisa saja di tangkap oleh petigas imigrasi atau kepolisian. Saya pun sempat terkejut mendengar bahwa barang siapa jalan atau sedang berada dengan orang kaburan akan di tangkap dan di deportasi sekalipun itu orang resmi. Padahal banyak teman saya yang menjadi orang kaburan, sungguh sangat di sesalkan namun tetap berusaha menjaga tali silaturahmi sesama anak bangsa. Orang kaburan bukanlah penjahat melainkan orang-orang yang berjuang demi hidup yang lebih baik, siapapun tak ada yang mau menjadi orang kaburan di Negara orang lain namun itu pilihan yang mungkin terbaik daripada harus mati di negeri sendiri karena kelaparan.

Ya ALLAH terima kasih atas semua nikmat yang telah engkau berikan sehingga aku merasa lebih beruntung di banding mereka. Untuk sahabat teruslah bejuang meraih hidup yang lebih baik dan tetaplah berdo’a semoga ALLAH selalu menyertai kita AMIN.

Senin, Agustus 31, 2009

Suratku..


Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!

Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak atas waktu dan
perkenannya untuk membaca tulisan ini. Semoga kau selalu dalam keadaan
sehat dan berada dalam lindungan-Nya. Amin.

Sebagai renungan, mengutip dari apa yang pernah kau tulis sendiri untukku beberapa waktu lalu:

”Bahwa perpisahan ini bukan hanya keputusan terbaik buat mu, tapi buat ku juga”

“Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan.
Akan tetapi, seringkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang
tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk
kita”.

Harapan-harapan masa laluku kepadamu dan janji-janji kita dulu untuk
mencapai pernikahan, ternyata hanyalah sebatas impian. Allah Maha
Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Biarlah itu semua menjadi
kenangan dalam hidupku.

Sejujurnya aku akui, begitu banyak kenanganku bersamamu. File-file dan foto-fotomu di notebook dan HP-ku.

Satu minggu sejak pengakuanmu yang menyatakan bahwa kau mencintai
laki-laki lain. Sejak itu pula, aku merasa kehilangan kendali. Aku
terpuruk sekali. Tidak pernah terbayangkan kata-kata itu terucap dari
orang yang sangat aku cintai dan sangat aku percayai. Tidak mungkin!
Tapi itulah kenyataannya.

“Pergiliran roda kehidupan kadang tidak bisa ditolak. Hadapi kenyataan dan berserah diri kepada-Nya adalah jalan terbaik.”

Aku coba merenungi apa yang pernah dikatakan oleh orang tua & sahabat2 ku. Memang tidak gampang menerima kenyataan. Tapi kalau aku
pikirkan dengan lebih mendalam, diterima atau tidak suatu kejadian
buruk, ia sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar ulang waktu.
Apalagi yang bisa kita lakukan selain mengembalikan semua kejadian
kepada Sang Penguasa setiap kejadian itu sendiri? Lalui saja dengan
ikhlas. Betapapun beratnya penderitaan dan peliknya sebuah persoalan,
pasti ia akan berujung. Dan hal itulah yang coba aku lakukan saat ini.

Dan seiring berjalannya waktu, cobaan dan ujian hati yang aku alami,
perjalanan
ibadah haji, hikmah-hikmah yang indah, dan pengalaman yang
kudapat semakin membuat hatiku lebih mengerti akan arti kehidupan ini.

Bersikap ikhlas dan sabar akan membuat segala kekurangan tidak akan
menyesakkan dada lagi. Masa lalu kita adalah sejarah yang tidak bisa
kita ubah. Tetapi, jangan sampai kita terkukung oleh masa lalu kita
hingga merasa tidak mungkin berubah.

Apa yang aku alami di masa lalu adalah satu tamparan pedih. Namun,
sesungguhnya di balik itu semua sangat berarti untuk jiwa ini.
Disadarkan akan arti cinta sejati. Cinta sebelum menikah adalah cinta
semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan!

Innaa lillahi wa innaa ilayhi rooji’uun. Alhamdulillah, Dia masih memberikan hidayah-Nya dengan cara seperti ini.

Insya Allah, aku akan segera meyempurnakan separuh agama.
Seorang muslimah yang akan aku cintai sepenuh hati. Seorang
yang mencurahkan ketulusan kasih sayangnya, mau menerima diriku
seutuhnya, dan siap hidup berjuang bersama dijalan-Nya dalam suka dan
duka.

Aku tidak tahu siapa dia. Jika waktunya telah tiba nanti, semuanya
akan terang benderang. Anugerah terindah itu pasti akan datang.

Sesungguhnya tiada sesuatu yang lebih indah di dunia ini selain
jalinan persaudaraan. Aku ingin jalinan persaudaraan di antara kita dan
keluarga yang sudah terbangun selama ini tetap ada, terlepas status
dari hubungan kita sekarang. Forget it!

Aku masih tetap mencintaimu. Tapi cinta sesama saudara seiman. Hanya
sebatas itu.
Kau tidak usah bersikap antipati terhadapku. Kau tidak
usah khawatir. Aku hanya ingin komunikasi di antara kita dan keluarga
tetap baik. Aku tetap menjalin komunikasi denganmu bukan berarti aku
ingin kondisi hubungan kita seperti dulu lagi. Mohon hal ini untuk
dipahami. Wallahu a’lam kalau ternyata Allah mentakdirkanmu sebagai jodohku kelak.

Di tulisan ini, aku menggantikan panggilan “Aa” dengan kata ganti
“Aku” dan tidak memanggilmu dengan sebutan “Neng” lagi. Semata untuk
menjaga hatiku dan hati laki-laki yang kau cintai kini.

Once again, aku menginginkan hubungan baik kita terjalin lagi, sama
seperti hubungan baikku dengan beberapa teman semasa dulu yang masih tetap terjalin indah.

Teman-teman yang pernah aku kenal dan semua orang yang pernah menyakiti dan membenciku. Aku hanya ingin tetap menjalin silaturahim.

Bukankah menjaga silaturahim itu salah satu
tiket masuk surga?

Mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah masih terus
berkenan memberikan hidayah dan rahmat-Nya. Dan ampunan-Nya kepada kita
semua. Amin.

Wassalaamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh!